August 24, 2004

Cerita Pak Nunu

Terima kasih kepada Pak Imam Wahyudi yang telah mengizinkan saya mengambil tulisan di bawah dari milis SA Parents untuk saya posting di sini. Pak Imam Wahyudi adalah salah satu orangtua murid Sekolah Alam yang sering membantu mempromosikan Sekolah Alam lewat RCTI, karena beliau memang bekerja di RCTI. Sementara Pak Nunu adalah guru PG Lebah & PG Semut. Jarang lho ada Pak Guru yang bisa dan mau mengajar di Preschool, apalagi Play Group. Dan Pak Nunu adalah satu dari guru langka itu.


GURU itu bernama Pak Nunu


Seperti yang sudah aku sepakati dengan Amadis, Azka, Ivan dan istriku , Sabtu sore kami membezuk Pak Nunu, guru Amadis di PG Semut. Pak Nunu jatuh dari pohon ketika hendak memasang spanduk acara Indonesian Culture, Rabu sore. Menurut istriku -- yang sudah membezuk Pak Nunu hari Kamis --, tulang tangan Pak Nunu patah di 3 tempat. Dua di lengan dan 1 di jari.

Sewaktu mulai masuk ke gang yang menuju rumah kontrakan Pak Nunu, aku sudah membayangkan bakal bertemu dengan mimik wajah memelas dan kesakitan. Tapi bukan hal itu yang kami temui. Pak Nunu tidak ada di rumah. Demikian juga 2 guru SA lain yang satu kontrakan dengannya.

Aku pikir pak Nunu pasti tengah ke dokter atau ke sakal putung (dukun patah tulang) yang sebelumnya mengurut lengannya. Namun, belakangan kami dapat informasi bahwa pak Nunu kemungkinan besar tengah ke sekolah. Lho?

Setengah tak percaya kami berlima langsung ke sekolah. Dan memang, pak Nunu benar-benar di sekolah. Tanpa wajah memelas atau kesakitan seperti yang aku bayangkan semula. Ketika aku tanyakan kondisinya, pak Nunu hanya menceritakan kalau sakitnya mulai berkurang. Dan ketika aku tanyakan rincian patah tulangnya dia tampak bersemangat menerangkan. Bukan padaku, tapi pada Azka dan Ivan yang ada di sampingku. Dia sampaikan bahwa tulangnya lengannya patah di tulang hasta dan pengumpil, jadi, tulang lengan manusia itu terdiri dari 2 tulang, yaitu tulang hasta dan pengumpil. Kalu dia patah dan menembus daging, akan terjadi....bla...bla.. bla.

Duh, sejujurnya aku benar-benar takjub, bersyukur dan mungkin juga ada perasaan jengah. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa pada saat seperti ini pun, dia masih berusaha memberi pelajaran, mengajari anak-anakku, dengan menjadikan cobaan yang menimpa dirinya sebagai model.

Aku benar-benar berhadapan dengan seorang GURU!


Wajah Pak Nunu tampak murung ketika Amadis tidak mau mendekat karena takut melihat tangan Pak Nunu yang dibebat. "Beberapa anak lainnya juga gitu." katanya lirih.

Ketika kami hendak pulang pak Nunu sempat menanyakan bagaimana kalau tangannya nanti di gips. "Anak-anak pasti takut ya," ujarnya sambil berusaha tertawa, tanpa sempat menyembunyikan kesedihannya. "Suruh saja mereka menggambari tangan yang digips, pasti suka," ujarku spontan. Aku sebenarnya setengah berseloroh. Karenanya, aku jadi terkejut ketika Pak Nunu justru tampak antusias dan bersemangat dengan "ide" ku itu. "Iya ya mudah-mudahan mereka senang." ujarnya dengan mata berbinar.

Senin pagi, sebelum menjenguknya di rumah sakit, aku sempat menelpon pak Nunu untuk menanyakan hasil operasinya Minggu sore. Sepanjang percakapan, hal dominan yang dikatakannya adalah bahwa dia ingin cepat sembuh dan minta didoakan cepat sembuh, agar bisa segera MENGAJAR kembali. Dia juga menanyakan dimana Amadis. Ketika aku sampaikan bahwa aku baru saja mengantar Amadis ke sekolah dan aku masih di sekolah, dia buru buru mengatakan: "Titip salam pada Amadis dan teman-temannya. Tolong didoakan Pak Nunu agar segera sembuh dan bisa MENGAJAR lagi,".

"Ya Allah. Terimakasih. Kau telah memberi kami GURU seperti Pak Nunu. Terimakasih kau telah membimbing kami ke sekolah ini. Beri kami kearifan, rizki dan kemampuan untuk menjaga rasa syukur agar kami bisa terus mengembangkan KEKAYAAN yang telah kami peroleh ini, menjadi sesuatu yang tidak hanya bermakna bagi kami dan anak-anak kami, tetapi juga bagi orang-orang di sekeliling kami dan umat sesama kami"

"Ya Allah sembuhkanlah Pak Nunu. Bukakan kesadaran tanpa pamrih kami untuk bersama-sama membantu dan menjaga KEKAYAAN kami ini. Amiin."

Depok, 23 Agustus 2004

Imam Wahyudi
Ortu Azka, Ivan, Amadis.




Pak Nunu dengan tangan digendong bersama dua muridnya yang datang menjenguk


Tetap ceria bersama Pak Endez yang bantu-bantu mengurusi keperluan Pak Nunu sejak musibah itu


Rombongan ibu-ibu yang segera membesuk Pak Nunu begitu mendengar berita kecelakaan yang menimpanya

4 comments:

Hadi Kuncoro said...

Assalamualaikum Wr wb

semoga cepet sembuh, dan Allah SWT memberkeahi.

Wassalam
hadi dan keluarga yang belom sempet main ke SA

Veranita Dwiputri said...

Terima kasih do'anya, Mas Hadi... Alhamdulillah Pak Nunu sudah kembali ke rumah.

Anonymous said...

dengan gaya si "DORA", raihan bilang 'ya ampun...., lalu langsung duduk dipangkuan pak nunu, waktu diajak mamanya jenguk pak nunu.

Veranita Dwiputri said...

He-he... begitulah murid-murid Pak Nunu!