October 12, 2004

Cerita Junk To Gem

Oleh-oleh Bunda Yalti
Dari Montage Competition
Maret 2004






Bermula dari browsing internet untuk mencari scholarship. Waktu membuka website British Council Indonesia saya dan suami melihat ada program Montage. Setelah mempelajari program ini kami langsung tertarik untuk mengikutsertakan Sekolah Alam dalam program tersebut. Korespondensi pun terjadi, ternyata mereka juga sudah lama mencari Sekolah Alam. (Lucunya korespondensi dilakukan dalam bahasa Inggris padahal yang berkomunikasi sesama orang Indonesia. Mungkin inilah tata krama dalam institusi ini.) Akhirnya mereka minta waktu untuk mempresentasikan program mereka di Sekolah Alam. Setelah saya minta kesediaan dan waktu teman-teman guru untuk mengikuti presentasi tersebut, saya konfirmasi kembali tanggal yang tepat bagi mereka untuk datang ke SA.

Presentasi berjalan Lancar. Project-project yang mereka tawarkan merupakan project-project yang dibuat oleh guru-guru hampir di seluruh belahan dunia, tentu saja project dari United Kingdom (UK) yang terbanyak. Untuk teman-teman guru, program ini bukan hal yang baru lagi. Karena sebagian besar dari project tersebut sudah sering mereka lakukan bersama siswa di kelas. Sementara untuk pihak BC (British Council) baru kali ini presentasi mereka mendapat tanggapan yang begitu meriah. Banyak ide yang di munculkan pada forum tersebut, mungkin baru sekolah ini yang bukan saja sudah sering melakukan project mereka tapi berani mengajukan penambahan project. Setelah mereka selesai presentasi, giliran kami yang presentasi. Saya ajak mereka berkeliling sekolah untuk melihat karya anak-anak yang di-display di kelas. Mereka tercengang dan tentu saja sangat tertarik, terutama ketika saya ajak melihat fosil daun di kelas 4.

Selanjutnya karena banyaknya pekerjaan dan masalah di sekolah, program ini nyaris terlupakan. Semua pikiran teman-teman tercurah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Saya sendiri tidak tega untuk memaksa teman-teman melakukan salah satu project Montage. Tapi Korespondensi terus berjalan.

Akhirnya mereka meminta waktu lagi untuk datang ke Sekolah Alam. Kali ini mereka membawa Head of Education-nya. Kebetulan saatnya bertepatan dengan pelantikan Presiden Siswa. Ketika mereka datang, Bu Heni (head of Education British Council) kelihatan sangat bersemangat melihat kegiatan di Sekolah Alam. Apalagi ketika saya ceritakan adanya Community Based Education yang berjalan di Sekolah Alam. Beliau sangat surprise karena menurut beliau belum ada sekolah di negara manapun yang bisa menjalankan Community Based Education ini.

Menurut Bu Heni pemerintah UK mungkin sangat tertarik memberikan grant untuk sekolah yang seperti ini, dimana (dalam kata – kata Bu Heni) “money is not The first priority” dan sangat terlihat jelas bahwa semua komponen merasa bertanggung jawab terhadap berjalannya pendidikan di sekolah ini (Community Based Education). Bu Heni bahkan mengusulkan untuk mengajukan program Community Based Education ini dalam program DFID, program pemberian grant dari pemerintah UK untuk pendidikan di negara ketiga. Lebih dari itu beliau (dengan semangat 45-nya) mengusulkan untuk mencari akreditasi internasional (ketika mendengar Izin SA belum ada) dan Teacher’s International Certification, dengan bantuan jaringannya tentu saja. Kedatangan Bu Heni dan kawan-kawan ini seperti memberikan angin segar diantara teman-teman yang sedang menghadapi permasalahan di sekolah.

Langkah selanjutnya saya yang datang ke British Council. Dengan ditemani oleh mbak Vera (mamanya Luthfi SD-4), saya membawa beberapa hasil karya anak termasuk fosil daun dan dokumentasi pemilu (foto dan film yang dibuat oleh papanya Luthfi SD-4)) di Sekolah Alam. Di sana kami berdiskusi dan mulai online baik dengan program montage maupun DFID. Pulang dari sana kami membawa banyak PR untuk membuat proposal DFID in English . Dua pekan kemudian kami (saya, mbak Vera dan pak Ari) berhasil membuat 3 buah proposal yaitu, proposal lesson in democracy, Leaf fossil, dan School recycle project. Bu Heni sempat menanyakan proposal community based school project- nya, tapi saya belum berani buat.

Beberapa pekan kemudian saya dihubungi lagi karena ada Montage World Competition katanya. Sekali lagi saya ajukan ke Syuro guru. Saya bebaskan teman-teman untuk membuat project Junk to Gem sesuai dengan tema kelas masing-masing. Ternyata untuk mengumpulkan hasil karya anak sangat mudah di Sekolah Alam. Dalam waktu 2 hari, saya berhasil mengumpulkan sekitar 20 hasil karya anak yang bisa dimasukkan ke dalam project Junk to Gem yang menjadi project utama dalam kompetisi tersebut. Itupun sebenarnya bisa lebih banyak lagi. Tapi karena waktu yang sangat singkat dan bingung mau bawa pakai apa juga keterbatasan internet akhirnya saya ambil acak saja. Kini tinggal memenuhi project pilihannya.

Dengan bantuan Ms Mimi (guru Bahasa Inggris), saya mengumpulkan tulisan anak-anak yang bisa saya ikutkan ke dalam Project “Grandmother and Me”, “ Interactive Writing”, “Flat Stanley” dan “View from my window”. Alhasil ada 28 karya anak yang saya kirimkan ke kompetisi tersebut.

Sebenarnya waktu yang dikasih nyaris satu bulan. Tapi karena berbagai kesibukan di sekolah kompetisi ini nyaris terlupakan. Saya mengumpulkan di hari terakhir, yaitu hari Jumat. Itupun masih harus kembali lagi karena barangnya tidak saya bawa. Alhamdulillah diberi waktu sampai hari Senin. Selama weekend saya mencoba melengkapi lagi syarat-syarat yang belum terpenuhi. Tepat hari Senin semua syarat sudah terpenuhi, bersama Pak Taufik, saya bawa semua barang-barang ke Gedung S. Widjojo Center. Panitia disana sangat surprise melihat banyaknya barang yang kita bawa.




Azka dan teman-teman dengan Globe dari bubur koran







Pengumuman hasil kompetisi dilakukan dua pekan kemudian. Pada malam tanggal 6 Mei saya bersama Pak Novi dan Pak Iman datang ke hotel Le Meridien untuk mengikuti acara pengumuman tersebut. Perasaan saya saat itu sedikit tegang, bukan karena khawatir kalah tapi lebih karena khawatir mengecewakan teman-teman guru yang sudah tahu tentang kompetisi ini. Untungnya anak-anak belum ada yang tahu, jadi beban sedikit berkurang. Alhamdulillah teman-teman yang datang bersama saya ini adalah pelawak-pelawak internasional, sehingga ketegangan dihati saya sempat mencair mendengar lelucon segar mereka (thanks pals !).

Selain acara pengumuman ada pameran sekolah dan hasil karya siswa. Kalau dilihat dari foto-foto yang dipamerkan memang terlihat foto-foto dari Sekolah Alam yang berbeda. Kalau dari sekolah lain hanya foto-foto presentasi di dalam kelas, foto Sekolah Alam yang dipamerkan adalah foto kegiatan pada saat pemilihan presiden siswa. Ada buku yang berisi foto-foto sekolah di Indonesia yang ikut program Montage di pamerkan juga. Dan foto-foto Sekolah Alam mendominasi isi buku ini. Terlihat sekali kalau Sekolah Alam berbeda dengan sekolah lainnya. Senang rasanya Sekolah Alam bisa mendapatkankesempatan terekspos seperti ini. Apalagi acara ini dihadiri pula oleh bapak Duta Besar Inggris, selain pejabat dari British Council dan pejabat dari Dik-Nas.

Ketika hasil kompetisi diumumkan, Alhamdulillah Globe hasil karya Azka (SD-3) dinobatkan sebagai juara ke tiga pada kelompok primary school. Dari ketiga juara hanya hasil karya Azka yang merupakan hasil karya sendiri, sementara yang lainnya merupakan hasil karya kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa). Hadiah untuk juara ketiga berupa 1 buah printer HP desk jet untuk sekolah dan seperangkat stationery untuk siswanya. Pengumuman terakhir adalah pengumuman sekolah teraktif yang mengikuti program Montage di Indonesia. Dari 110 sekolah (yang terdiri dari primary dan secondary school) yang mengikuti program ini ternyata Sekolah Alam terpilih menjadi sekolah yang paling aktif (karena hasil karya siswanya yang paling banyak ikut program ini). Alhamdulillah. Untuk itu Sekolah Alam mendapat Samsung digital camera (makasih ya anak-anak).



sebagian dari hadiah yang diterima Azka


Setelah pengumuman saya sempat menanyakan pada panitia alasan memilih globe karya Azka sebagai juara ketiga. Ada empat hal yang dikemukakan, yang pertama tema yang dipilih international, kedua teknik pembuatan sehingga globe itu bisa berdiri dan bisa berputar, ketiga banyaknya barang bekas pakai yang digunakan dalam globe tersebut, Keempat kreativitas. Mendengar jawaban itu saya cukup terkesima, baru kali ini di Indonesia saya mendengar penilaian lomba hasil karya anak yang tidak dinilai dari keindahan hasil akhirnya tapi dari nilai yang dikandung pada hasil karya tersebut. Baru kali ini ada kompetisi yang penilaiannya sama dengan prinsip penilaian di Sekolah Alam.

Selanjutnya ketika saya mengambil hadiah di British Council ada berita baik lagi yang saya terima yaitu, dua dari tiga proposal yang kami buat diterima oleh Montage International‘s coordinator sebagai new project. Lesson in Democracy dan Leaf fossil akan menjadi project baru di Montage International. Sekolah Alam menjadi pelopor sekolah di Indonesia yang adding project di program Montage ini. Konsekuensinya Sekolah Alam akan menjadi koordinator project dan membuat project web site. Saat ini web site-nya dalam tahap pembuatan. Insya ALLAH akan segera mulai di publish ke 90 negara yang mengikuti montage program. Alhamdulillah ada kesempatan sosialisasi dan membangun international networking. Ada kelemahannya, karena kita belum punya Web site Sekolah Alam, jadi untuk sementara hosting-nya ikut web site Montage Indonesia.

Oh iya, untuk DFID sudah ada sekolah di UK yang mau melakukan Curriculum Collaboratives dengan Sekolah Alam. Sayangnya dari Secondary school, sementara Sekolah Alam baru mulai membuat sekolah lanjutan. Sampai hari ini kita masih melakukan korespondensi dengan sekolah tersebut.

Pengalaman ini memberi energi baru buat saya pribadi dan (mudah-mudahan) semua teman-teman guru lainnya dan menjadi tambahan semangat untuk berbuat lebih banyak lagi. Ternyata walau hanya mengumpulkan hasil karya siswa dan program-program guru-guru (tidak membuatnya secara khusus), kita bisa mendapat apresiasi International. Mudah-mudahan saja ini merupakan petunjuk bahwa apa yang sedang kita bangun saat ini masih berada pada jalur yang benar di jalan idealisme kita ini.

“Time is all that we really need”… itu kata dari sebuah lagu yang mengikuti pikiran saya saat ini. Ya…waktu yang sekarang kita butuhkan untuk membuktikan apa yang selama ini kita perjuangkan. Pendidikan untuk anak-anak kita dan idealisme kita bukanlah mie instan yang bisa cepat saji dan cepat dinikmati, tapi butuh waktu panjang, kesabaran dan ketekunan untuk memprosesnya.










berbagai karya anak SA, dari aneka barang bekas

2 comments:

Choi Family said...

Saya sangat bahagia ada sekolah seperti SA yang bisa menjadi pelopor untuk berani berbeda demi kebenaran dan kebaikan, bukannya mengikuti arus dan ikut ikutan menjadi sekolah yang tidak mendidik. I was wondering, apakah sekolah Alam (kelas 1 khususnya) mau melakukan web conference dengan putri kami? Namanya Choi Da Hye, dia homeschooler. Dia juga bisa berbahasa Indonesia. Semoga sekolah alam bertambah maju.
Ines http://homeschoolindonesia.blogspot.com

kliknklik said...

benar2 artikel yang sangat fresh dan mendidik sekali, sesuai dengan gambar background blognya..