July 17, 2005

Cerita Seto

Setahun Seto di Sekolah Alam
Herry Wardhani



Seto (kiri), saat tampil bersama teman sekelasnya
dalam acara Indonesian Cultures di SA
18 Agustu 2005


Setahun sudah Seto di Sekolah Alam. Teringat lagi peristiwa setahun lalu, saat Seto harus pindah karena guru di sekolah lama tak sanggup menanganinya. Hari itu hari Selasa, azan Ashar berkumandang, dengan satu keyakinan Allah pasti memberi jalan, ... dari sekolah lama saya langsung mampir ke Sekolah Alam.

Alhamdulillah saya diterima pak Nurkholis,katanya ada tempat di kelas 2. Saya cerita bahwa setahun terakhir ini Seto belajar di dua kelas,6 bulan di kelas 1 dan 6 bulan di kelas 3. Saya perlihatkan juga beberapa contoh hasil EHB kelas 3. Pak Nurkholis usul untuk dicoba sit in di kelas 3, sambil diobservasi. Alhamdulillah Seto diterima di kelas 3, tapi harus didampingi Shadow Teacher (guru pendamping). Shadow Teacher-nya harus laki-laki karena fisik Seto cukup besar untuk anak seusianya.

Kami semua - saya, Qbay, Wahyu, bu Rifa/pak Artin(terapis) - berusaha mencarikan shadow. Satu bulan berlalu shadow belum didapat,Pak Nurkholis bilang kenapa tak pakai shadow yang lama saja. Masalahnya Wahyu, shadow yang lama, masih berkerja di beberapa tempat lain dan tak bisa full-time di SA. Namun setelah Istikharoh dan dengan kerelaan Qbay, masuklah Wahyu ke SA.

Wahyu dan Mbak Herry
Open House SA, April 2005


Minggu-minggu pertama Seto di SA berangkatnya diantar, selama sekolah ditunggui Mak Ate dan didampingi Wahyu. Alhamdulillah Seto dapat guru kelas yang hebat Bu Diah & Pak Abdulrachman.

3 bulan berlalu walaupun ada saja hal yang negatif yang dilakukan seto, tapi semua bisa diatasi. Setiap hari saya melihat mukjizat, kemajuan demi kemajuan tampak jelas. Saat tes, hasil matematikanya 100% benar, Bu Diah ingin yakin bahwa itu memang hasil kerja Seto sendiri maka Wahyu diminta untuk tidak mendampingi. Tes ulang tetap benar semua. Kemudian Pak Abdul coba sekali lagi hasilnya pun sama.

Sekali lagi cobaan datang, Wahyu cuti nikah seminggu. Sementara mak Atek sakit, sehingga tak bisa menunggui Seto di sekolah. Tapi rupanya Allah punya rencana lain : setelah itu Seto lebih percaya diri, mak tak boleh ikut dan menungguinya lagi di sekolah.

Suatu saat ada tugas, Seto harus melakukan presentasi tentang Rusia di depan teman-temannya. Saya siapkan sekedarnya, karena saya tak yakin apakah Seto bisa. Bu Diah tetap ingin mencoba, dan hasilnya sungguh di luar dugaan. Ternyata Seto mampu. Alhamdulillah.

Setahun sudah Seto di Sekolah Alam,banyak sekali kemajuan yang saya rasakan : Saat ini Seto diantar hanya sampai pintu gerbang dan saya harus cepat pergi meninggalkannya. Hasil rapornya pun memuaskan. Semuanya ini adalah hasil kerja keras dari guru-gurunya (Bu diah, Pak Abdul , Bu Fatimah , Bu Nur, Ms Mimi) dan guru-guru yang lain yang juga punya peran yang besar, serta teman-teman lainnya di SA. Pengertian para orangtua anak SA, juga besar artinya bagi perkembangan Seto. Dan untuk itu semua saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan bersyukur pada-Nya.

Perkembangan dan kemajuan pesat pada diri Seto, tentunya dikarenakan anak-anak di Sekolah Alam merupakan lingkungan yang baik. Dan hal ini tidak akan terjadi tanpa bimbingan dari Guru-guru Sekolah Alam yang hebat.

Bersama teman-teman sekelas menampilkan budaya KalBar
Indonesian Cultures, 18 Agustus 2005




Terus terang saat pertama saya jejakkan kaki di SA, saya tak tahu apa-apa tentang SA. Allah-lah yang menuntun saya kesini. Ternyata setelah 1 (satu) tahun saya sadari bahwa guru-guru di Sekolah Alam adalah guru-guru yang penuh dedikasi, penuh kreativitas... guru-guru yang tak pernah mundur menghadapi tantangan, dan senantiasa mendidik anak dengan kasih sayang. Saya bersyukur Allah telah menuntun saya ke Sekolah Alam. Alhamdulillah.


Seto (kaus merah, celana biru tua)
bersama teman-teman kelompok OTFA-nya
menerima penghargaan setelah OTFA 2005




Seto Radityo. Lahir sebagai anak ke dua pada saat ibunya berusia 40 tahun. Beda usia dengan kakaknya 14 tahun. Seto menderita kelainan perkembangan yang oleh para ahli disebut sindroma asperger (salah satu jenis autisme ringan). Seto mengalami gangguan komunikasi. Dia tahu apa yang kita bicarakan, tapi mengalami kesulitan untuk mengekspresikan dirinya. Kemampuan kognitifnya sendiri sangat baik , dan memorinya sangat kuat. Saat ini berkat bantuan terapisnya ( wicara + okupasi) + guru2 + Shadow + teman + lingkungan di sekolahnya Seto sudah mampu untuk bertanya, memberitahukan sesuatu, serta mengekspresikan marah maupun perasaan senangnya.


Cerita ini aku terima melalui e-mail
dari mbak Herry beberapa hari lalu.
Bu dokter ini dalam beberapa kesempatan
sering menceritakan kemajuan dan perkembangan pesat
yang terlihat pada anaknya, sejak bergabung di Sekolah Alam.
Cerita-ceritanya mengingatkan aku pada
tulisan para orang tua murid SA yang aku kumpulkan
untuk buku Sekolah Impian dua tahun lalu.
Aku pun memintanya untuk menulis cerita tentang Seto.
Beliau memenuhi janjinya, dan dengan seizin beliau
cerita ini saya posting di sini.

June 27, 2005

Cerita Bu Cache

Terkesan Bu Cache


Bu Cache, paling kanan,
berpose bersama beberapa guru - OTFA 2004 di Sukamantri


Di kelas 2 (dua), aku terkesan pada Bu Cache.
Baru beberapa bulan berinteraksi dengan Luthfi di kelas,
Bu Cache langsung bisa meng-identifikasi
bakat Luthfi dalam berbahasa.
Beliau menyarankan agar Luthfi dikursuskan bahasa Inggris.

Mulanya aku tidak terpikir sama sekali
untuk mengikutkan Luthfi kursus ini-itu.
Selain karena pulang sekolahnya saja sudah sore,
aku juga tidak mau membebaninya
dengan terlalu banyak kegiatan di luar sekolah
(selama ini kegiatannya hanya les berenang
tiap Sabtu pagi bersama sepupunya,
itu pun kupikir lebih merupakan rekreasi bagi dia).

Tetapi saat kusampaikan saran Bu Cache itu pada Luthfi,
ternyata dia mau kursus bahasa Inggris.
Walaupun resikonya ...
dia harus langsung ke tempat kursus dari sekolah,
karena jadual yang tersedia hanya sore hari.

Kadang kasihan aku melihatnya
saat tertidur dalam perjalanan dari sekolah ke tempat kursus
yang berjarak tempuh ± 30 menit itu.
“Capek Fi?”, tanyaku.
“He eh.... capek ‘sih, tapi nggak pa-pa.”
Hasilnya, dia berani ngobrol dengan ‘bule’
yang datang ke sekolahnya.
Dan yang pasti, Luthfi jadi lebih pede,
karena merasa punya kelebihan dan diakui kelebihannya
oleh teman-teman maupun guru-gurunya.

Terima kasih Bu Cache.



Bu Cache tetap menjalankan tugas di Pos P3K
OTFA 2004 Sukamantri
sambil 'menikmati' sakit yang sangat
akibat endometriosis yang sudah lama dideritanya


Bu Cache adalah salah satu
guru paling senior di SA Ciganjur.

Bu guru bertubuh mungil yang semasa kuliah di ITB
ternyata aktif sebagai pencinta alam ini,
adalah salah satu saksi sejarah perkembangan Sekolah Alam.
Bersama teman-teman di SA Ciganjur lainnya,
Bu Cache telah menikmati pahit-manis dan suka-duka
dalam memperjuangkan keberlangsungan sekolah ini
dari awal berdirinya di tahun 1998 hingga sekarang.

Mau tanya soal kurikulum Sekolah Alam?
Insya Allah, Bu Cache-lah orang yang paling tepat

untuk dijadikan tempat bertanya...
dan denger-denger kepiawaian Bu Cache ini diakui pula
oleh Lendo Novo, sang penggagas Sekolah Alam.



Kembali ke masalah Bahasa Inggris, alhamdulillah teman-teman sekelas Luthfi juga ikut termotivasi untuk lebih giat belajar Bahasa Inggris. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari kerja keras Ms Mimi yang membuat belajar Bahasa Inggris jadi terasa fun & exciting buat anak-anak SA.Melalui berbagai activity & lomba Story Telling antar kelas, Ms Mimi yang dibantu Bunda Yalti berhasil mendorong anak-anak untuk terus meningkatkan kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris.


Ms Mimi, ngobrol bareng guru-guru dari Inggris
Valerie, Andrew, dan Jim Harrison sang Inspector

Luthfi sendiri alhamdulillah tahun ini naik ke kelas 6 (enam). Sesuai saran gurunya juga, kursusnya sekarang pindah ke tempat yang ada native speaker-nya. Di tempat kursus yang lama, beberapa kali Luthfi loncat level dan sepertinya sudah kurang challenging buat dia. Saat ini di tempat kursusnya yang baru, di kelas nya, Luthfi yang termuda usianya, satu-satunya yang masih SD. Temannya rata-rata sudah SMP, bahkan ada yang SMU. Tapi menurut teacher-nya, Luthfi tetap pede dan jadi one of the best students di kelasnya. Alhamdulillah.



Luthfi sedang make speech di depan para undangan,
para ortu murid, dan teman-temanya
Open House SA - April 2005


Di sekolah, sebagai Presiden Siswa Luthfi sering diminta untuk make speech in English setiap ada kunjungan tamu atau dalam berbagai acara sekolah lainnya. Dan di Semester II saat kelas 5 (lima) kemarin, sekolahnya dikunjungi guru-guru dari Inggris. "Luthfi hebat sekali bahasa Inggrisnya ya, Bu" kata Pak Yudha gurunya. "Temen-temennya berani juga ngobrol tapi masih keliatan malu-malu... Dia sih nyerocos aja tuh ngobrol sama si Robert... dia cerita segala macem tentang sekolah, tentang ekspedisi Ujung Kulon ... nanyanya juga macem-macem", cerita Pak Yudha.


Pak Yudha, bersama Bunda Yalti foto bareng
Jim Harrison yang Senior Advisor di School Improvement &
Advisory Service Hertfordshire County Council
dan Pak Radith dari British Council

Dan aku jadi terharu, saat Pak Yudha bilang : "Tau gak Bu, Si Luthfi nanya apa sama Robert... Dia nanya: 'Is there any possibilities for me to visit your school in a student exchange program?' ... 'Of course there is. We can arrange that!' kata Robert."


Robert (Martinwoods Primary School, UK)
baris depan tengah, berkacamata.


Robert sempat belajar main angklung
dan didaulat ikut tampil bersama murid kelas 4
dalam acara Meet & Greet, UK Teachers - Indonesian School,
awal April 2005 di Sekolah Alam Ciganjur,
sebagai bagian dari program TIPD
(Teachers International Professional Development)
yang disponsori British Council.


Kenapa aku terharu? Karena Luthfi memang sudah berulangkali mengungkapkan keinginannya untuk ke luar negeri. Ada sedikit sesal, kenapa aku tidak pernah mengajaknya ikut waktu beberapa kali dapat tugas ke luar negeri saat kerja dulu.


Semoga ya, Nak...
dengan berbekal kemampuanmu berbahasa Inggris itu
suatu saat nanti akan terbuka peluang bagimu
untuk pergi ke mana saja kamu mau.
Amin.