tentang Pemilu di SA
Pelajaran Demokrasi bagi anak-anak SA yang dilakukan setiap tahun ini, dimulai dari pengajuan nama-nama calon kandidat di SD 5 (begitu lazimnya siswa-siswi Sekolah Alam menyebut kelas V). Kenapa kelas 5 bukan kelas 6?
Pada hari H, panitia Pemilu dalam hal ini anak-anak SD 5, dibantu beberapa guru menyiapkan 2 TPS di lapangan rumput tempat anak-anak biasa main bola. Hari itu lapangan agak becek karena hujan, namun hal itu tidak mengurangi antusiasme anak-anak untuk menggunakan hak suaranya. Semua siswa SD berduyun-duyun menuju TPS, diiringi alunan melodi synthesizer melalui pengeras suara mengumandangkan lagu Pemilu.
Ba’da zhuhur, penghitungan suara dimulai. Dari sorak-sorai anak-anak mendukung calonnya, agak mengejutkan juga bahwa kecil-kecil begitu anak-anak Sekolah Alam ternyata sexist lho! Akibatnya suara anak laki-laki terpecah dua, hingga hasilnya sudah bisa diduga. Emily terpilih jadi Presiden Siswa, menggantikan Usamah kakak kelasnya yang telah setahun menjabat Presiden Siswa. Tapi Emily memang pantas, dari kesehariannya gadis manis ini memang lebih matang dibanding teman-temannya. Dan semua menerima kemenangannya. Hari itu juga Emily dilantik, dengan Rakai yang berada di posisi ke dua dalam perolehan suara sebagai wakilnya.



Para Kandidat Presiden Siswa
persiapan

TPS becek, nggak masyallaah...


Petunjuk Alur Pemilu


Antri

Antusias ikut nyoblos!


kotak suara

Celup tinta, selesai!

Penghitungan Suara
Tegang menunggu hasil
Senyum kemenangan Emily, sang Presiden Siswa

Presiden & kabinetnya
Update :
Dari kegiatan Pemilu ini
Sekolah Alam ikut adding project di program Montage
dengan bantuan British Council Indonesia
dan bisa di lihat di sini












